ini cuma blog biasa yang dibikin buat mengasah keterampilan menulis yang seharusnya dikuasai oleh seorang mahasiswa Komunikasi. Blog ini isinya macem-macem kok.. ada tulisan dari tugas-tugas gw selama kuliah, pengalaman-pengalaman gw dan orang lain, kisah-kisah menarik, dll lah!!
yang pasti bisa buat gw lebih jago dalam menulis dan tentunya juga bisa bermanfaat buat semua orang.
Untuk memebuat media massa, tentunya terlebih dahulu kita harus dapat menganalisa segmentasi dari media massa yang akan kita buat. Untuk siapa media massa tersebut kita buat, berapa usia target kita, tampilan seperti apa yang cocok dengan psikologi penikmat media massa kita, berapa harga yang pas dengan kemampuan target kita, dan lain-lain. Sehingga para penikmat media massa kita merasa puas dan nyaman.
Dan disni saya akan memaparkan apa saja yang perlu diperhatikan jika kita ingin media massa yang kita buat dapat diterima dengan baik oleh audience, namun hanya dalam tataran indera penglihatan (lay out). Karena media massa banyak sekali jenisnya dan beragam pula segmentasinya, dan itu tidak mungkin saya bahas satu-persatu, maka media massa yang akan dibahas disini saya pilih lebih spesifik, yaitu majalah anak-anak.
Segmen dari majalah ini adalah anak-anak yang berusia kurang lebih sekitar 4 s.d. 12 tahun. Dalam usia ini, segmen kita mempunyai minat membaca yang kurang, mereka lebih tertarik pada gambar. Hal itulah yang harus kita siasati. Buatlah majalah yang sarat akan gamabar namun tidak menghilangkan sama sekali tulisan didalamnya. Perbandingan antara tulisan dan gambar bisa kita gunakan antara 70:30. Namun, tidak semua gambar disukai oleh anak-anak. Gambar yang sesuai dengan psikologi anak-anak adalah gambar kartun yang dipenuhi warna-warna cerah. Begitu juga dengan jenis huruf yang kita gunakan (typografi). Usahakan dalam membuat layout majalah anak-anak, kita menggunakan jenis huruf san serif (tidak berekor) dan full color sehingga lebih santai dan sesuai dengan karakter anak-anak. Dengan itu kita bisa membuat minat baca pada anak-anak bertambah.
Beberapa contoh huruf yang bisa kita gunakan dalam penulisan judul tulisan pada majalah anak-anak diantaranya adalah:
Namun untuk penggunaan huruf pada badan tulisan, kita cukup menggunakan jenis huruf:
Comic Sans MS atau Calibri saja agar aspek keterbacaan bisa kita dapatkan.
Selain harus memperhatikan karakter psikologi anak-anak, kita juga bahasa yang kita pakai juga berbeda dengan bahasa yang kita gunakan jika ingin meharus membuat oragtua mereka tertarik pada majalah kita. Karena segmen kita adalah anak-anak yang belum bisa menghasilkan uang sendiri, berarti para orangtualah yang akhirnya memutuskan untuk membeli majalah kita atau tidak. Maka, majalah kita juga perlu mendapat perhatian si orangtua.
Sebelum memberikan sesuatu kepada anaknya, orangtua pasti berpikir apakah majalah ini baik, buruk, atau biasa saja bagi perkembangan anaknya. Karena itu, selain untuk menghibur, majalah kita juga harus mempunyai konten yang mendidik. Jangan lupa bahwa salah satu fungsi media massa adalah pendidikan. Apalagi pembaca dari majalah kita adalah anak-anak, dimana kepribadian dan kreatifitasnya akan dibentuk pada masa ini.
Thursday, May 21, 2009
Bergaya memang boleh, tapi kalo maksa ya ga asik juga diliatnya.. gw heran kenapa sekarang orang2 suka banget pake celana yang lobang kakinya kecil2 gt. mending kalo bahanya elastis. ini bahan jeans di bikin kaya lobang semut. apa mereka ga tersiksa ya?? dari cara makenya aja udah keliatan ribet. kaki kita harus di pakein plastik dulu baru dimasukin ke celana. belom lagi cara ngelepasnya yang ga kalah ribetnya. udah gitu rambutnya yang keriting disetrika biar lurus..
emang sih dalam dunia ini kita pengen terlihat modis dan menarik. tapi apa dengan alasan itu kita bisa lupa batasan? apa demi penampilan menarik kita harus operasi wajah? apa demi terlihat modis kita perlu menentang takdir dengan merubah rambut keriting jadi lurus? udah gitu gw liat ada beberapa orang yang selalu menjelek jelekan indonesia. dengan bilang "kenapa gw harus jadi warga negara indonesia!!","indonesia mah mental korup semua!!",dll. padahal dia tau kalo dia itu lahir di indonesia negara yang ngasih dia hak buat hidup!! coba kalo dia lahir dan hidup di salah satu negara di Afrika sana!! mungkin dia ga akan bisa hidup kaya sekarang. ya kalo dia mau pindah kewarganegaraan ya pergi aja sana!! negara kita gak butuh orang kaya gitu. cuma penuh-penuhin populasi aja. tapi ga mau berpikir dan berkarya buat negara ini. nah dibawah ini ada 7 hal di dalem hidup kita yang ga bisa kita rubah mungkin bisa di simak bener apa nggaknya. dan karena itu gw minta saran dan komentarnya ya...
1. Jenis kelamin emang ada operasi untuk mengubah kelamin. Tapi ga bisa mengubah roh (spiritual) orang yang bersangkutan. Terimalah dirimu, mau lo cewe ataupun cowo. berlakulah seperti laki-laki/perempuan.
2. Orang tua ga ada yang bisa memilih dilahirkan oleh orang tua yang mana. so, you must respect your parents!! mau orang tua lo pemabuk, penjudi, pelacur sekalipun, lo harus hormati mereka!! Kalau tidak, itu akan terjadi dalam kehidupan lo nanti. anak lo akan bertindak seperti itu kelak.
3. Hari kelahiran Sudah ditetapkan oleh Tuhan, sebelum dunia dijadikan. Jangan menyesali, mengapa engkau harus lahir ke dunia tapi disia-siakan oleh orang yang lo kasihi. Tuhan punya rencana baik buat lo.
4. Bentuk Fisik Kalo lo keriting, yah keriting aja. Kalau hidung lo pesek, terima itu. gw banyak melihat orang yang ngerubah bentuk wajahnya, apakah itu memancungkan hidung, alis matanya dicukur habis, dll, jadi kelihatan aneh dan ga natural bgt.
5. Masa lalu Ini juga sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jangan melihat ke belakang,karena itu hanya membuat lo "frozen" - can not do anything! Look to the future and see how good it is. jadiin aja pelajaran buat kita menghadapi masa depan..
6. Kedudukan dalam keluarga Apakah lo anak bungsu, sulung, atau tengah, you can not change it. Nikmati sajalah. ya ga?
7. Suku bangsa / ras Menyesal jadi orang Indonesia yang terus menerus dilanda kesulitan? Atau menyesal jadi orang jawa yang kalau menikah perlu upacara adat yang ribet banget? Atau jadi orang Cina yang suka ditindas dan diintimidasi? hmmm.....
Nah, sekarang ubah cara berpikr lo. Tuhan sudah menetapkan lo di bangsa ini untuk satu tujuan. So, do the best in your job, loyal, jangan korupsi, itu sudah menolong untuk memperbaiki bangsa kita ini.
Itulah 7 hal yang ga bisa kita ubah. Kalaupun ada yang kita bisa ubah, misalnya: bentuk fisik, itu akan membawa kita ke dalam situasi yang tidak pernah puas. Selalu ingin ubah penampilan terus. Capek kan? Terimalah dirimu apa adanya, seperti Tuhan menerimamu.
Memang dunia melihat rupa, tapi Tuhan melihat hati. Apa yang lo lakukan setiap hari itu lebih penting dari penampilan lo. Bukan berarti lo bisa berpenampilan seenaknya, ga gitu!! Tapi lo harus menerima apa yang sudah Tuhan berikan. Kulitmu yang hitam (manis), hidungmu yang kurang mancung, rambut yang lurus, kurang tinggi, dll, dsb deh.
begitu sibukkah kita hari ini? jika tidak, sempatkan bersyukur. sebab, sedikitnya pengetahuan kita bertambah hari ini.
1. cocacola dulu berwarna hijau 2. nama yang paling umum digunakan di dunia adalah Mohammed 3. dalam bahasa inggris, semua nama benua diawali dan diakhiri dengan huruf vokal yang sama. 4. otot terkuat yang ada di badan kita adalah lidah. 5. setiap orang di USA punya 2 kartu kredit! 6. TYPEWRITER adalah kata terpanjang yang dapat diketik dalam satu baris tuts keyboard anda 7. perempuan ngedip dua kali lebih banyak dari pada laki-laki. 8. menahan nafas tidak akan membuatmu mati. 9. setiap manusia tidak dapat menjilat siku tangannya sendiri. 10. kalau ada orang bilang 'bless you' setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kau bersin, jantungmu berhenti satu milisecond. 11. secara fisik, setiap babi tidak bisa melihat ke langit. 12. ucapkan "sixth sick sheik's sixth sheep's sick" beberapa kali. nanti anda akan mahir berbahasa inggris! 13. bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian. 14. setiap raja dalam kartu remi melambangkan raja-raja besar jaman dahulu kala: raja sekop - raja daud raja kriting - alexander agung raja hati - raja charlemagne raja wajik - julius caesar 15. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987,654,321 16. kalau ada patung orang naik kuda dan dua kaki depan kuda itu naik di udara, itu tandanya orang itu mati dalam perang. 17. kalau kaki kudanya cuma satu yang diangkat berarti orang itu cuma terluka dalam perang. 18. kalau semua kaki kudanya menjejak tanah, berarti orang itu meninggal karena sakit. 19. apa persamaan rompi anti peluru, printer laser, tangga darurat dan wiper mobil? jawabannya: semua ditemukan oleh perempuan! ha! 20. satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk? jawaban : madu 21. buaya nggak bisa melet lidah. 22. siput bisa tidur selama 3 tahun 23. semua beruang kutub KIDAL! 24. American Airlines menghemat $40,000 tahun 1987 dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka sajikan untuk penumpang kelas 1. 25. indera perasa kupu-kupu ada di kaki 26. gajah adalah satu-satunya hewan yang tidak bisa lompat 27. selama 4000 tahun belakangan ini, jenis hewan yang dipelihara di rumah cuma itu-itu saja. 28. rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba daripada kematian. 29. shakespeare menemukan kata : "assassination" dan "bump" 30. dengan menggunakan cara mengetik 10 jari, STEWARDESSES adalah kata terpanjang yang bisa diketik hanya dengan jari-jari tangan kiri. 31. semut selalu jatuh ke kanan setiap kali disemprot cairan anti hama 32. kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter gigi 33. jantung manusia dapat menyemprotkan darah sejauh 30 kaki. 34. dalam 18 bulan, 2 ekor tikus bisa punya lebih dari sejuta anak tikus! 35. memakai headphone selama satu jam dapat menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat! 36. pemantik ditemukan sebelum korek api. 37. setiap lipstik mengandung sisik ikan. 38. seperti sidik jari, lidah manusia pun mempunyai kontur yang berbeda-beda. 39. dan akhirnya, 99% orang yang baca tulisan ini pasti mencoba menjilat siku tangannya.
gw pernah baca di milis yahoo. kisahnya nyentuh banget. kira kira begi lah ceritanya.. simak aja..
Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?" "Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos.
Dalam tulisan ini, kita akan menguraikan bagai mana orang menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali. Proses pengolahan informasi, yang disini kita sebut sebagai komunikasi intrapersonal, meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Sensasi adalah proses menangkap stimuli. Persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Dengan kata lain, persepsi mengubah sensasi menjadi informasi. Memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali. Berpikir adalah mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respon.
SENSASI
Tahap paling awal dalam penerimaan informasi ialah sensasi. Sensasi berasal dari kata “sense”, artinya alat pengindraan yang mehubungkan organisme dengan lingkungannya. Sensasi adalah pengalaman elementer segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan sangat berhubungan dengan alat indera. Kita mengenal lima alat indera atau panca indera. Psikologi menyebut sembilan,bahkan ada yang menyebutkan sebelas alat indera. Diantaranya adalah indera penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular, perabaan, temperatur, rasa sakit, perasa, dan penciuman. Kita dapat mengelompokannya dalam tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi.
Informasi dari dunia luar, diindera oleh eksteroseptor (misalnya telinga atau mata). Informasi dari dalam, diindera oleh interoseptor (misalnya sistem peredaran darah). Selain itu gerakan tubuh kita sendiri diindera oleh propioseptor (misalnya organ vestibular). Apa saja yang menyentuh indera dari dalam maupun dari luar disebut stimuli.
PERSEPSI
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walau pun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, motifasi, ekspektasi, dan memori.
Persepsi seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor fungsional dan faktor struktural. Sebelum membahas hal itu, marilah kita mulai dengan faktor lainnya yang sangat mempengaruhi persepsi, yakni perhatian.
Perhatian Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Berikut ini adalah faktor eksternal penarik perhatian. 1. Gerakan. Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada ojek yang bergerak. 2. Intensitas stimuli. Kita akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol lebih dari stimuli yang lain. 3. Kebaruan. Hal hal yang baru yang luar biasa, yang beda, akan menarik perhatian. 4. Perulangan. Hal hal yang di sajikan berkali kali bila disertai sedikit variasi, akan menarik perhatian.
Dan berikut ini adalah faktor internal penarik perhatian. 1. Faktor biologis. Dalam keadaan lapar, seluruh pikiran di dominasi oleh makanan. Kerena itu bagi orang lapar, yang paling menarik perhatiannya adalah makanan. 2. Faktor sosiopsikologis. Berikan sebuah foto yang menggambarkan sebuah kerumunan orang banyak di sebuah jalan sempit. Tanyakan apa yang mereka lihat. Setiap orang akan melaporkan hal hal yang berbeda. Itu karena dalam pikiran tiap orang terdapat pandangan yang berbeda mengenai stimuli yang sama. 3. Motif sosiogenesis. Sikap, kebiasaan, kemauan, mempengaruhi apa yang kita perhatikan. Dalam perjalanan naik gunung, geolog akan memperhatikan batuan; ahli botani,bunga bungaan; ahli zoologi,binatang.
Faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama : Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Bila orang lapar dan orang haus duduk di warung makan, yang pertama akan melihat nasi, sayur dan daging, lalu yang kedua akan melihat air jeruk atau teh. Ini merupakan contoh kebutuhan biologis yang menyebabkan persepsi yang berbeda. Pengaruh kebudayaan terhadap persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antarbudaya dan komunikasi lintas budaya.
Kerangka Rujukan (Frame of Reference) Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi sering disebut juga sebagai kerangka rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian psikofisik yang berkaitan dengan persepsi objek.
Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagimana orang memberi makna pada pesan yang diterimanya. Mahasiswa komunikasi tidak akan mengerti jika diberikan istilah-istilah kedokteran karena mereka tidak pernah belajar ilmu kedokteran, begitu pula sebaliknya.
Faktor struktural yang mempengaruhi persepsi Faktor faktor struktural berasal semata mata dari sifat stimuli fisik dan efek efek saraf yang di timbulkannya dari saraf individu. Para psikolog Gestalt, merumuskan prinsip prinsip persepsi yang bersifat struktural. Prinsip ini kemudian terkenal dengan teori Gestalt. Menurut teori gestalt bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian bagiannya, lalu menghimpunnya.
Jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masyarakatlah yang dihadapinya.
MEMORI
Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam mempengaruhi baik persepsi (dengan menyediakan kerangka rujukan) maupun berpikir (yang kita akan uraaikan nanti). Memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. Setiap saat stimuli mengenai indera kita, setiap saat pula stimuli itu direkam secara sadar atau tidak sadar.
Memori melewati tiga proses: perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal. Proses yang kedua yaitu penyimpanan (storage), adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana. Proses yang ketiga yakni pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan. ( Mussen dan Rosenzweig, 1973:499)
Jenis jenis memori
Kita tidak menyadari pekerjaan memori pada 2 tahap yang pertama. Kita hanya mengetahui memori pada tahap ketiga: pemanggilan kembali. Pemanggilan diketahui dengan empat cara : Pengingatan (recall), Pengenalan (recognition), Belajar lagi (relearning), Redintegrasi (redintegration). Mekanisme memori
Ada tiga teori yang menjelaskan cara kerja memori: teori aus, teori interfernsi, dan teori pengolahan informasi. 1. Teori Aus. Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu 2. Teori Interferensi. Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas itu. 3. Teori Pengolahan Informasi. Menurut teori ini, menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term memory (STM, memori jangka pendek); lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukan ke dalam long -term memory (LTM, memori jangka panjang).
BERPIKIR
Proses selanjutnya yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap stimuli adalah berpikir. Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur unsur lingkungan dengan menggunakan lambang lambang sehingga tidak harus langsung melakukan kegiatan yang tampak (menurut Floyd L. Ruch dalam bukunya Psychology and Life.
Menurut Paul Mussen dan Mark R, Rosenzweige, berpikir menunjukan berbagai kegiatan yaang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Berpikir kita lakukan untuk memahami realitas dalm rangka mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan menghasilkan yang baru.
Bagaimana orang berpikir? Secara garis besar, ada dua macam berpikir: berpikir autistik dan berpikir realistik. Yang pertma lebih tepat berpikir melamun, menghayal adalah salah satu contohnya. Berpikir realistik adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.
Floyd L. Ruch menyebut tiga macam berpikir realistik: 1. Berpikir deduktif. Dapat dirumuskan dari hal hal yang umum pada hal hal yang khusus. 2. Berpikir induktif. Berpikir induktif adalah kebalikan dari berpikir deduktif, yaitu di mulai dari hal hal yang khusus kemudian mengambil kesimpulan yang umum. 3. Berpikir evaluatif. Berpikir ini maksudnya adalah berpikir kritis, menilai baik dan buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan.
Menetapkan keputusan Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Keputusan yang kita ambil beraneka ragam. Tapi ada tanda tanda umumnya: 1. Keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual; 2. Keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai altenatif; 3. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau ditunda. Masih banyak yang belum bisa di ungkapkan tentang proses penetapan keputusan. Tetapi telah di sepakati bahwa faktor personal amat menentukan apa yang diputuskan itu, antara lain kognisi, motif dan sikap. Kognisi artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki.
Memecahakn persoalan Masalah timbul ketika ada peristiwa yang tidak dapat diatasi dengan perilaku rutin. Anda mulai bingung dan ragu, ragu, tidak tau apa yang harus dilakukan. Bagaimana anda mengatasi masalah? Faktor faktor yang mempengaruhi proses pemecahan masalah Seperti perilaku manusia yang lain, pemecahan masalah di pengaruhi oleh faktor personal dan situasional. Faktor faktor situasional terjadi, misalnya, pada stimulus yang menimbulkan masalah,atau pada sifat sifat masalah. Kita tidak mengulas faktor faktor situasional secara terperinci.
Beberapa penelitian telah membuktikan pengaruh faktor faktor sosiopsikologis dan biologis terhadap proses pemecahan masalah. Manusia yang kurang tidur mengalami penurunan kemampuan berpikir; begitu pula ketika ia terlalu lelah. Ini adala faktor biologis. Sama pentingnya juga adalah faktor sosiopsikologis. Contohnya : 1. Motivasi. Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian, yang tinggi membatasi fleksibilitas. 2. Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat di peroleh kekayaan material, kita akan mengalami kesulitan ketika memecahkan penderitaan batin kita. 3. Kebiasaan. Kecenderungan memiliki pola berpikir yang melihat sesuatu dari satu sisi saja dapat menghambat pemecahan masalah yang efisien. 4. Emosi. Emosi bukanlah hambatan utama, tetapi bila emosi sudah berubah menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.
Berpikir kreatif Kata Guilford orang kreatif di tandai dengan pola berpikir divergen, yakni mencoba semua kemungkinan jawaban. Berpikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan, divergen dengan kreativitas. Berpikir kreatif adalah berpikr analogis – metaforis. Tetapi, bagaimana mekanismenya?
Proses berpikir kreatif 1. Orientasi : masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasikan. 2. Preparasi : pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah. 3. Inkubasi : pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan jalan buntu tetapi pemecahan masalah terus berlangsung. 4. Iluminasi : masa inkubasi berakhir dan sebuah ilham pun didapatnya. 5. Verifikasi : tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diujikan pada tahap keempat. Faktor-faktor yang mempengaruhi berpikir kreatif Ada beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif (Coleman dan Hammen) 1. Kemampuan kognitif : termasuk disini kecerdasan diatas rata rata, kemampuan melahirkan gagasan gagasan baru, dan fleksibilitas kognitif. 2. Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal; ia memiliki minat yang beragam dan meluas. 3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif tidak senag digiring; ingin menampilkan dirinya sempunya dan semaunya.
Selain faktor faktor psikososial, beberapa peneliti menunjukan adanya faktor faktor situasional lainnya. Maltzman (1960) menunjukan faktor peneguhan dari lingkungan. Dutton (1970) menyebut antara lain tersedianya hal istimewa bagi manusia kreatif; dan Silvano Arieti menekankan bahwa faktor isolasi dalam menumbuhkan kreatifitas (Hunt 1982:308).
Komponen pada proses komunikasi antarpersona atau komunuikasi kelompok mudah diketahui. Namun apabila komunikasi tersebut dilakuakan media massa maka komponen maupun prosesnya tidak akan sesederhana sebagaimana pada proses bentuk komunikasi yang lainnya. Komunikasi massa : proses komunikasi dengan menggunakan media massa;
1. Cetak, surat kabar, majalah, etc.
2. Non Cetak, radio, TV, internet, film
“Yang terpenting adalah bukan jenis media massanya tetapi yang
diperlukan adalah pemahaman lebih luas dari konsep-konsep
tersebut, apakah semua media beroperasi sama.”
Harold D. Lasswell mengemukakan suatu ungkapan yang sangat terkenal dalam teori dan penelitian komunikasi massa yaitu, who (siapa), says what (berkata apa), in which channel (melalui saluran apa), to whom (kepada siapa), dan with what effect (dengan efek apa)?
Formula tersebut meskipun sedrhana, telah membantu mengorganisasikan dan memberikan struktur kajian bidang komunikasi massa. Dengan dengan mengikuti formula Lasswel, dapat dipahami bahwa dalam proes komunikasi massa terdapat 5 unsur yang disebut komponen atau unsur dalam proses komunikasi, yaitu:
1.Who (siapa): komunikator, orang yang menyampaikan pesan dalam proses komunikasi massa. Segala masalah yang bersangkutan dengan hal ini memerlukan analisis kontrol, yatu analisis yang merupakan subdivisi dari riset lapangan.
2.Says what (apa yang dikatakan): pernyataan umum, dapat berupa suatu ide, informasi, opini, pesan, dan sikap yang sangat erat kaitannya dengan analisis pesan.
3.In wich channel (melalui saluran apa): media komunikasi atao saluran yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan komunikasi.
4.To whom (kepada siapa): komunikan atau audience yang menjadi sasaran komunikasi . dalam hal ini diperlukan adanya analisis khalayak.
5.With what effect (dengan efek apa): hasil yang dicapai dari usaha penyampaian pernyataan umum itu kepada sasaran yang dituju. Berkaitan dengan efek ini diperlukan adanya analisis efek.
B.Komponen komunikasi massa
Hiebert, Unguraid, dan Bohn yang sering kita singkat menjadi HUB mengemukakan komponen-komponen komunikasi massa meliputi: commuicators, codes and contents, gate keepers, the media, regulators, filters, audiences, and feedback.
1.Communicators.
Proses komunikasi massa diawali oleh komunikator. Komukator komunikasi massa pada media media cetak adalah para pengisi rubrik, reporte, redaktur, pemasang iklan, dan lain lain. Sedangakan pada media elekronik komunikatornya adalah pengisi program, pemasok program (rumah produksi,penulis naskah, produser, aktor, presenter, dan lain-lain). Sifat komunikator: 1. Costliness 2. Complexity 3. Competitiveness.
Syarat komunikator yang baik
Aristoteles menyebutkan karakter komunikator sebagai ethos. Ethos komunikator terdiri dari good will (maksud yang baik), good sense (pikiran yang baik), dan good moral character (karakter yang baik). Sementara itu Hovland dan Weiss menyebut ethos sebagai credibility, yang terdiri dari dua unsur yakni expertise (keahlian) dan trusworthiness (dapat dipercaya).
Ada dua unsur lain dalam persyaratan dalam menjadi komunikator yang lain, yaitu acceptability.
Codes and Content
Codes adalah sistem simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan komunikasi, misalnya : kata – kata lisan, tulisan, foto, musik, dan film (moving pictures). Content atau isi media merujuk pada makna dari sebuah pesan, bisa berupa informasi mengenai perang irak atau sebuah lelucon yang dilontarkan seorang komedian.
Dalam komunikasi massa, codes dan content berinteraksi sehingga codes yang berbeda dari jenis media yang berbeda, dapat memodifikasi persepsi khalayak atas pesan, walaupun contentnya sama.
Gatekeeper
Istilah Gatekeeper pertama kali digunakan oleh Kurt Lewin pada bukunya Human Relation. Istilah ini mengacu pada proses: (1) suatu pesan berjalan melalui berbagai pintu, selain juga pada (2) orang atau kelompok yang memungkinkan pesan lewat. Gatekeepers dapat berupa seseorang atau satu kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber kepada penerima.
Fungsi utama gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang. Gatekeeper membatasi pesan yang diterima komunikan. Editor surat kabar, majalah, penerbitan juga dapat disebut gatekeepers. Seorang gatekeepers dapat memilih, mengubah, bahkan menolak pesan yang disampaikan kepada penerima.
Regulator
Peran regulator hampir sama dengan gatekeeper, namun regulator bekerja di luar institusi media yang menghasilkan berita. Regulator bisa menghentikan aliran berita dan menghapus suatu informasi, tapi ia tidak dapat menambah atau memulai informasi, dan bentuknya lebih seperti sensor.
Di Amerika Serikat ada lima macam regulator pada proses komunikasi massa :
a)Pemerintah adalah regulator utama.
b)Sumber informasi juga bisa mempengaruhi arus berita.
c)Pengiklan.
d)Organisasi profesi.
e)Konsumen komunikasi
Sementara di Indonesia yang termasuk kategori regulator adalah pemerintah dengan perangkat undang – undangnya, khalayak penonton, pembaca, pendengar, asosiasi profesi, lembaga sensor film, dewan pers, dan KPI.
Media
Media massa yang memiliki ciri khas, mempunyai kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak (simultaneous) dan serentak (instantaneous). Jenis-jenis media yang digolongkan dalam media massa adalah pers, radio siaran, televisi dan film.
Audience (Audiens)
Marshall Mcluhan menjabarkan audience sebagai sentral komunikasi massa yang secara konstan di bombardir oleh media.
Melvin defleur dalam bukuntya, theory of mass communication mengemukakan empat teori efek media terhadap audiencsnya.
the individual differences theory
the social categories theory
the social relationship theory
the cultural normas theory
Karakteristik Audiens Komunikasi Massa
dalam proses komunikasi antarpersona, penerima pesan adalah individu. Dalam komunikasi massa, penerimaannya adalah khalayak pendengar (listeners), khalayak pembaca (readers), dan khalayak pemirsa (viewers).audiens komunikasi massa memiliki karakteristik sebagai berikut:
audiens terdiri dari individu-indivividu yang memiliki pengalaman yang sama dan terpengaruh oleh hubungan social dan intrapersonal yang sama
audiens berjumlah besar
audiens bersifat heterogen
audiens bersifat anonym
audiens biasanya tersebar
Filter
Khalayak yang heterogen ini akan menerima pesan melalui media sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, agama, usia, budaya dan sebagainya. Oleh karena itu, pesan itu akan difilter oleh khalayak yang menerimanya
Filter utama yang dimiliki oleh khalayak adalah indra yang dipengaruhi oleh tiga kondisi, yaitu :
1. Budaya
Pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media massa akan diberi arti yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang budaya khalayak
2. Psikologikal
Pesan yang disampaikan media akan diberi arti sesuai dengan frame of reference dan field of experience khalayak.
3. Fisikal
Kondisi fisik seseorang baik internal maupun eksternal akan mempengaruhi khalayak dalam mempersepsi pesan media massa.
- Kondisi fisik Internal, keadaan kesehatan seseorang
- Kondisi fisik Eksternal, keadaan lingkungan di sekitar komunikan ketika menerima pesan dari media massa.
Feedback
Komunikasi adalah proses dua arah antara pengirim dan penerima pesan. Proses komunikasi belum lengkap apabila audiens tidak mengirimkan respons atau tanggapan kepada komunikator terhadap pesan yang disampaikan. Respon atau tanggapan ini di sebut feed back.
Bentuk respon dalam komunikasi massa juga hampir sama. Audiens bias saja memberi respon dengan cara tertawa saat menonton acara lawak di televisi atau mengomentari suatu berita padas surat kabar.namun respons seprti ini tidak terlihat oleh kominakator komunikasi massa . agar responnya dapat sampai kepada komunikator, audiens harus memberikan feedback seperti menulis surat pembaca, dan lain-lain. Umpan balik juga dapat berupa reaksi yang timbul dari pesan kepada komunikator. Dengan demikian umpan balik yang terjadi dalam proses komunikasi massa dapatdiuraikan sebagai berikut:
a.internal feedback
b.eksternal feedback
1). Representative feedback
2). Indirect feedback
3). Delayed feedback
4). Cumulative feedback
5). Institutionalized feedback
C.Efek Komunikasi Massa
Pada bab ini hanya akan dibahas dua pendekatan saja, yaitu efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan atau media serta jenis perubahan yang terjadi pada khalayak yang terdiri atas efek kognitif, afektif, dan behavioral.
Efek Kehadiran Media Massa
a.Efek Ekonomi
Kehadiran media massa di tengah kehidupan manusia dapat menumbuhkan berbagai usaha produksi, distribusi, dan konsumsi jasa media massa.
b.Efek Sosial
Efek Sosial verkaitan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial sebagai akibat dari kehadiran media massa.
c.Penjadwalan Kegiatan Sehari – hari
d.Efek Hilangnya Perasaan tidak Nyaman
Orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dengan tujuan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman.
e.Efek Menumbuhkan Perasaan Tertentu
Orang tidak hanya menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dengan tujuan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman, tetapi dapat juga menumbuhkan perasaan tertentu.
Efek Pesan
a)Efek Kognitif
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informative bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif. Melalui media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara langsung.
Seseorang mendapatkan informasi dari televisi, bahwa “Robot Gedek” mampu melakukan sodomi dengan anak laki-laki di bawah umur. Penonton televisi, yang asalnya tidak tahu menjadi tahu tentang peristiwa tersebut. Di sini pesan yang disampaikan oleh komunikator ditujukan kepada pikiran komunikan. Dengan kata lain, tujuan komunikator hanya berkisar pada upaya untuk memberitahu saja.
Menurut Mc. Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera). Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media massa adalah relaitas yang sudah diseleksi. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Televisi sering menyajikan adegan kekerasan, penonton televisi cenderung memandang dunia ini lebih keras, lebih tidak aman dan lebih mengerikan.
Karena media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial yang bias dan timpang. Oleh karena itu, muncullah apa yang disebut stereotip, yaitu gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise dan seringkali timpang dan tidak benar. Sebagai contoh, dalam film India, wanita sering ditampilkan sebagai makhluk yang cengeng, senang kemewahan dan seringkali cerewet. Penampilan seperti itu, bila dilakukan terus menerus, akan menciptakan stereotipe pada diri khalayak Komunikasi Massa tentang orang, objek atau lembaga. Di sini sudah mulai terasa bahayanya media massa. Pengaruh media massa lebih kuat lagi, karena pada masyarakat modern orang memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa.
Sementara itu, citra terhadap seseorang, misalnya, akan terbentuk (pula) oleh peran agenda setting (penentuan/pengaturan agenda). Teori ini dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Biasanya, surat kabar mengatur berita mana yang lebih diprioritaskan. Ini adalah rencana mereka yang dipengaruhi suasana yang sedang hangat berlangsung. Sebagai contoh, bila satu setengah halaman di Media Indonesia memberitakan pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar, berarti wartawan dan pihak redaksi harian itu sedang mengatur kita untuk mencitrakan sebuah informasi penting. Sebaliknya bila di halaman selanjutnya di harian yang sama, terdapat berita kunjungan Megawati Soekarno Putri ke beberapa daerah, diletakkan di pojok kiri paling bawah, dan itu pun beritanya hanya terdiri dari tiga paragraf. Berarti, ini adalah agenda setting dari media tersebut bahwa berita ini seakan tidak penting. Mau tidak mau, pencitraan dan sumber informasi kita dipengaruhi agenda setting.
Media massa tidak memberikan efek kognitif semata, namun ia memberikan manfaat yang dikehendaki masyarakat. Inilah efek prososial. Bila televisi menyebabkan kita lebih mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar, televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Bila majalah menyajikan penderitaan rakyat miskin di pedesaan, dan hati kita tergerak untuk menolong mereka, media massa telah menghasilkan efek prososial afektif. Bila surat kabar membuka dompet bencana alam, menghimbau kita untuk menyumbang, lalu kita mengirimkan wesel pos (atau, sekarang dengan cara transfer via rekening bank) ke surat kabar, maka terjadilah efek prososial behavioral.
b)Efek Afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada Efek Kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan hanya sekedar memberitahu kepada khalayak agar menjadi tahu tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, setelah mengetahui informasi yang diterimanya, khalayak diharapkan dapat merasakannya. Sebagai contoh, setelah kita mendengar atau membaca informasi artis kawakan Roy Marten dipenjara karena kasus penyalah-gunaan narkoba, maka dalam diri kita akan muncul perasaan jengkel, iba, kasihan, atau bisa jadi, senang. Perasaan sebel, jengkel atau marah daat diartikan sebagai perasaan kesal terhadap perbuatan Roy Marten. Sedangkan perasaan senang adalah perasaan lega dari para pembenci artis dan kehidupan hura-hura yang senang atas tertangkapnya para public figure yang cenderung hidup hura-hura. Adapun rasa iba atau kasihan dapat juga diartikan sebagai keheranan khalayak mengapa dia melakukan perbuatan tersebut.
Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya efek afektif dari komunikasi massa:
1)Suasana emosional
Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa respons kita terhadap sebuah film, iklan, ataupun sebuah informasi, akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Film sedih akan sangat mengharukan apabila kita menontonnya dalam keadaan sedang mengalami kekecewaan. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak bila kita menontonnya setelah mendapat keuntungan yang tidak disangka-sangka.
2)Skema kognitif
Skema kognitif merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur eristiwa. Kita tahu bahwa dalam sebuah film action, yang mempunyai lakon atau aktor/aktris yang sering muncul, pada akahirnya akan menang. Oleh karena itu kita tidak terlalu cemas ketika sang pahlawan jatuh dari jurang. Kita menduga, asti akan tertolong juga.
3)Situasi terpaan (setting of exposure)
Kita akan sangat ketakutan menonton film Suster Ngesot, misalnya, atau film horror lainnya, bila kita menontontonnya sendirian di rumah tua, ketika hujan labt, dan tiang-tiang rumah berderik. Beberpa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih ketakutan menonton televisi dalam keadaan sendirian atau di tempat gelap. Begitu pula reaksi orang lain pada saat menonton akan mempengaruhi emosi kita pada waktu memberikan respons.
4)Faktor predisposisi individual
Faktor ini menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa. Dengan identifikasi penontotn, pembaca, atau pendengar, menempatkan dirinya dalam posisi tokoh. Ia merasakan apa yang dirasakan toko. Karena itu, ketika tokoh identifikasi (disebut identifikan) itu kalah, ia juga kecewa; ketika ientifikan berhasil, ia gembira.
c)Efek Behavioral
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan dalam televisi atau film akan menyebabkan orang menjadi beringas. Program acara memasak bersama Rudi Khaeruddin, misalnya, akan menyebabkan para ibu rumah tangga mengikuti resep-resep baru. Bahkan, kita pernah mendengar kabar seorang anak sekolah dasar yang mencontoh adegan gulat dari acara SmackDown yang mengakibatkan satu orang tewas akibat adegan gulat tersebut. Namun, dari semua informasi dari berbagai media tersebut tidak mempunyai efek yang sama.
Radio, televisi atau film di berbagai negara telah digunakan sebagai media pendidikan. Sebagian laporan telah menunjukkan manfaat nyata dari siaran radio, televisi dan pemutaran film. Sebagian lagi melaporkan kegagalan. Misalnya, ketika terdapat tayangan kriminal pada program “Buser” di SCTV menayangkan informasi: anak SD yang melakukan bunuh diri karena tidak diberi jajan oleh orang tuanya. Sikap yang diharapkan dari berita kriminal itu ialah, agar orang tua tidak semena-mena terhadap anaknya[10], namun apa yang didapat, keesokan atau lusanya, dilaporkan terdapat berbagai tindakan sama yang dilakukan anak-anak SD. Inilah yang dimaksud perbedaan efek behavior. Tidak semua berita, misalnya, akan mengalami keberhasilan yang merubah khalayak menjadi lebih baik, namun pula bisa mengakibatkan kegagalan yang berakhir pada tindakan lebih buruk.
Mengapa terjadi efek yang berbeda? Belajar dari media massa memang tidak bergantung hanya ada unsur stimuli dalam media massa saja. Kita memerlukan teori psikologi yang menjelaskan peristiwa belajar semacam ini. Teori psikolog yang dapat mnejelaskan efek prososial adalah teori belajar sosial dari Bandura. Menurutnya, kita belajar bukan saja dari pengelaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan. Artinya, kita mampu memiliki keterampila tertentu, bila terdapat jalinan positif antara stimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita.
Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam empat tahapan proses: proses perhatian, proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris, dan proses motivasional.
Permulaan proses belajar ialah munculnya peristiwa yang dapat diamati secara langsung atau tidak langsung oleh seseorang. Peristiwa ini dapat berupa tindakan tertentu (misalnya menolong orang tenggelam) atau gambaran pola pemikiran, yang disebut Bandura sebagai “abstract modeling” (misalnya sikap, nilai, atau persepsi realitas sosial). Kita mengamati peristiwa tersebut dari orang-orang sekita kita.bila peristiwa itu sudah dianati, terjadilah tahap pertama belajar sosial: perhatian. Kita baru pata mempelajari sesuatu bila kita memperhatikannya. Setiap saat kita menyaksikan berbagai peristiwa yang dapat kita teladani, namun tidak semua peristiwa itu kita perhatikan.
Perhatian saja tidak cukup menghasilkan efek prososial. Khalayak harus sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam benak benaknya dan memanggilnya kembali ketika mereka akan bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan. Untuk mengingat, peristiwa yang diamati harus direkam dalam bentuk imaginal dan verbal. Yang pertama disebut visual imagination, yaitu gambaran mental tentang peristiwa yang kita amati dan menyimpan gambaran itu pada memori kita. Yang kedua menunjukkan representasi dalam bentuk bahasa. Menurut Bandura, agar peristiwa itu dapat diteladani, kita bukan saja harus merekamnya dalam memori, tetapi juga harus membayangkan secara mental bagaimana kita dapat menjalankan tindakan yang kita teladani. Memvisualisasikan diri kita sedang melakukan sesuatu disebut seabagi “rehearsal”.
Selanjutnya, proses reroduksi artinya menghasilkan kembali perilaku atau tindakan yang kita amati.Tetapi apakah kita betul-betul melaksanakan perilaku teladan itu bergantung pada motivasi? Motivasi bergantung ada peneguhan. Ada tiga macam peneguhan yang mendorong kita bertindak: peneguhan eksternal, peneguhan gantian (vicarious reinforcement), dan peneguhan diri (self reinforcement). Pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar telah kita simpan dalam memori kita. Kita bermaksud mempraktekkannya dalam percakapan dengan kawan kita. Kita akan melakukan hanya apabila kita mengetahui orang lain tidak akan mencemoohkan kitam atau bila kita yakin orang lain akan menghargai tindakan kita. Ini yang disebut peneguhan eksternal. Jadi, kampanye bahasa Indoensia dalam TVRI dan surat kabar berhasil, bila ada iklim yang mendorong penggunaan bahasa Indoensia yang baik dan benar.
Kita juga akan terdorong melakukan perilaku teladan baik kita melihat orang lain yang berbuat sama mendapat ganjaran karena perbuatannya. Secara teoritis, agak sukar orang meniru bahasa Indonesia yang benar bila pejabat-pejabat yang memiliki reutasi tinggi justru berbahasa Indonesia yang salah. Kita memerlukan peneguhan gantian. Walaupun kita tidak mendaat ganjaran (pujian, penghargaan, status, dn sebagainya), tetapi melihat orang lain mendapat ganjaran karena perbuatan yang ingin kita teladani membantu terjadinya reproduksi motor.
Akhirnya tindakan teladan akan kita lakukan bila diri kita sendiri mendorong tindakan itu. Dorongan dari diri sendiri itu mungkin timbul dari perasaan puas, senang, atau dipenuhinya citra diri yang ideal. Kita akan mengikuti anjuran berbahasa Indonesia yang benar bila kita yakin bahwa dengan cara itu kita memberikan kontribusi bagi kelestarian bahasa Indonesia.
D.Dampak sosial media massa
Media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Contohnya seorang aktor yang mengenakan topi dalam filmnya, anak – anak lainnya pun dengan segera menirunya. Budaya, sosial, dan politik dipengaruhi oleh media.
Media membentuk opini publik untuk membawanya pada perubahan yang signifikan. Media massa, terutama televisi yang menjadi agen sosialisasi (penyebaraan nilai – nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap, persepsi, dan kepercayaan.
adalah seoarang mahasiswa yang sedang mengemban ilmu di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Dan sedang berusaha untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain dimasa mendatang.